Minggu, 04 Maret 2012

Chocolate is Heaven


*ini bukan blog berbayar

Dessert? Yes, please! Gue hampir nggak pernah melewatkan dessert sehabis makan. Tapi nggak sembarang dessert gue suka. Lately, gue memutuskan untuk mencoba rekomendasi sepupu gue yaitu melted chocolate di sebuah restoran. Rasanya? Wiiihiiiihiiiii, juara banget! Lalu dari situ gue pun memutuskan untuk menjajal beberapa melted chocolate di resto laen, ada gak nih yang bisa ngalahin rasa melted choco di resto yang direkomendasiin sepupu gue ini. 

Nah, yang pertama, ini adalah melted choco yang gue coba di Lokananta CafĂ© di Gandaria City. Dari suasananya, di satu sudut ada tempat yang enak banget buat nongkrong. Sofa berbentuk L dengan colokan listrik yang pas banget buat isi ulang baterai BB (mengingat kebiasaan orang sekarang, kalo nongkrong yang ditanya duluan, ada colokannya nggak? --"). Sayangnya, smoking area-nya terlalu deket sama yang non-smoking area, sehingga sayup-sayup bau rokok bisa kecium. Buat gue ini enggak nyaman karena gue anti sekali sama asep rokok. 

Melted Chocolate at Lokananta Cafe Gandaria City

Lalu gimana dengan choco melted-nya? Perlu nunggu sekitar 15-20 menit untuk menikmati choco melted. Di mana-mana juga begitu. Pastinya, choco melted selalu fresh from the oven, kalo enggak pasti jadinya cuma cake coklat biasa. Begitu dateng, gue langsung nggak pake mikir ambil sendok dan memotong bagian cake-nya. Seketika lelehan coklat yang terperangkap di dalam cake tipis mengalir deras ke luar. Nggak pake lama, gue langsung cicipin lelehan beserta cakenya. Rasanya? Surga dunia! Coklatnya nggak terlalu manis tapi juga nggak terlalu pahit. Es krimnya ngimbangin panasnya coklat yang baru ke luar dari oven. Sebagai pelengkap, ada potongan buah stroberi dan mangga serta potongan biskuit dengan kacang. Nggak hanya itu, ada 3 varian rasa es krim untuk nemenin melted choco ini: vanila, coklat dan stroberi. Menurut gue, rasa es krim paling enak untuk nemenin ini sii tergantung selera masing-masing soalnya gue malah suka makan ini tanpa es krim dan buah, tapi biskuitnya enak. Harga: Rp. 25,000 sebelum pajak.

Choco melted kedua yang gue coba yaitu chocolate fondant di The Playground Plaza Indonesia. Suasananya sii juara banget. Desain interiornya dibuat kayak taman bermain anak, ada ayunan yang dijadiin kursi untuk makan, trus ada sepeda roda tiga yang diparkir sebagai aksesoris, serta beberapa area yang ditutupin rumput buatan dengan pencahayaan yang minimalis. 



Chocolate Fondant at The Playground Plaza Indonesia

Gimana dengan chocolate fondantnya? Hmm, dari segi ukuran, bisa dilihat lebih kecil dari ukuran yang di Lokananta (atau cuma ilusi aja karena cake-nya di dalem cangkir :p). Dari penyajian sama oke-nya lah. Hanya saja, ada beberapa kesulitan yang gue temukan untuk menikmati hidangan ini. Pertama, sendoknya, bok! kecil banget! Susah banget buat nyendokin cake yang masih di dalem cangkir. Kedua, karena cake-nya di dalem cangkir, ada sisa cake yang akhirnya menempel di pinggir cangkir. Gimana dengan lelehan coklatnya? Oke lah, tapi nggak bisa sedramatis di Lokananta karena di dalam cangkir. Rasanya? Gue lebih suka yang di Lokananta karena lebih kaya rasa. Cuman gue suka banget dengan aksen remahan marie regal di sekitar es krim. Indah. Harga: Rp. 40,000 sebelum pajak.

Oke, yang ketiga, gue tergelitik untuk mencoba melted chocolate di Bakerzin setelah gue melihat posternya di Central Park. Tapi akhirnya gue mencoba melted chocolate di Bakerzin Plaza Senayan. Suasananya seperti layaknya kafe di tengah mal. Nggak ada tema spesial. Jadi langsung bahas melted choco-nya ya.

Melted Chocolate at Bakerzin Plasa Senayan

Seperti yang bisa dilihat, dari segi artistik, melted choco ini paling artistik yah. Beda dengan 2 cake yang sebelumnya, sebelum dipotong dengan sendok, udah keliatan lelehan cokelatnya. Cake-nya didesain berlubang. Nggak seperti dua cake lainnya juga, es krimnya ditaro di atas cake. Sayangnya karena ini, gue jadi nggak bisa ngerasain cake-nya secara individu. Apalagi di bawahnya ditaro potongan jeruk yang akhirnya 'memaksa' gue untuk merasakan cake yang bercampur dengan rasa jeruk. Cake-nya juga dilingkari oleh selai stroberi dan 3 buah stroberi. Secara keseluruhan, gue nggak menemukan kesan enak ketika makan ini karena gue 'dipaksa' untuk mencampur semua rasa di atas piring. Harga: Rp. 59,000 sebelum pajak.

Jadi, menurut gue juaranya melted choco di Lokananta. Selain murah, semua yang gue harapkan dari sepotong melted choco ada di sana. Tapi di kesempatan kedua gue balik ke sana, lelehan coklatnya nggak sederas pertama kali gue ke sana. Bisa jadi karena gue nggak langsung memakannya (karena gue poto-poto dulu khan :p)

Happy eating, selamat makan!


'Till then, hang tough.


Hmm…, udah lama rasanya gue tidak menulis tentang badminton. Uyeh, I’m a huge fan of badminton. Gue masih inget tegangnya nonton siaran langsung Thomas Uber Cup di akhir 1990 dan awal 2000. I was so in love with the game, the crowd and of course the athletes.  You name it: Joko Suprianto, Heryanto Arbi, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Chandra Wijaya, Tony Gunawan, and of course Hendrawan. Gue masih inget ketika Hendrawan harus melawan Yong Hock Kin dari Malaysia untuk mengamankan poin tunggal kedua dan semua setuju bahwa Hendrawan adalah kunci kemenangan tim Thomas Indonesia saat itu. Atau saat Ricky Subagja harus berpisah dengan Rexy Mainaky di semifinal dan final Thomas Cup dan dipasangakan dengan Tony Gunawan. Oh My Gosh! This pair was a.m.a.z.i.n.g!! Dan mereka bedua berhasil mengamankan kedua poin yang dibebankan kepada mereka.

Ricky Subagja/ Rexy Mainaky


Hendrawan

Kemana mereka sekarang? To be honest, our greatest athletes are not in our country. Sadly, but true, mereka melatih di negara lain. Tony Gunawan masih bermain di usianya yang 35 tahun bersama Howard Bach di Amerika. Gue juga pernah nemu Tony dan istrinya, Etty Tantri bermain ganda campuran di beberapa turnamen kecil walaupun nggak juara.  Ricky Subagja masih di Indonesia, sesekali nongol jadi komentator. Rexy Mainaky dan Hendrawan hijrah ke Malaysia. Alasan klasik: mereka merasa apresiasi pemerintah kurang makanya milih melatih di negara lain. Tidak nasionalis? Nanti dulu. Kalo mereka nggak nasionalis, nggak mungkin lah mereka membela Indonesia selama ini di ajang internasional. You name it: Olimpic, Thomas Uber, Sudirman Cup, Kejuaraan Dunia. So why move?

Setelah Uber Cup lepas dari Indonesia tahun 1998, prestasi pemain putri hampir nggak pernah terdengar lagi. Terakhir gue pikir Mia Audina bakal menggantikan Susi Susanti. Ternyata enggak, karena masalah internal, akhirnya Mia memutuskan untuk pindah ke Belanda dan sekarang membela Belanda. Lalu gue dengar ada juga Maria Kristin Yulianti yang berhasil meraih medali perunggu Olimpiade Beijing and…that’s it. Ganda putri? Jangan tanya. Itu sebabnya kita nggak pernah juara Uber Cup dan Sudirman Cup karena sektor putri kita lemah, sektor putranya bersaing ketat dan ganda campuran masih bergantung sama pemain senior yang saat itu adalah Trikus/ Minarti.


Setelah Thomas lepas tahun 2004, gue nggak pernah ngikutin badminton lagi. My heart is broken. Gimana bisa kita dulu bisa sebagus itu, disegani negara lain dan sekarang? Banyak pemain yang memilih menjadi pemain non-pelatnas. Kita juga masih mengandalkan pemain senior seperti Taufik Hidayat dan nggak ada pelapis sebaik dia untuk menggantikan posisinya. Taufik itu namanya udah kedegeran sejak Thomas 1998 dan dia masih maen sampe sekarang! Gilak! Itu jamannya Sun Jun dan Yong Hock Kin masih maen dan sekarang mereka udah digantiin sama Lin Dan, Cheng Long dan Lee Chong Wei!

Taufik Hidayat
Lalu sekarang gue mulai ngikuti lagi karena aksesnya yang gampang. Banyak akun Twitter yang selalu membagi berita seputar badminton atau cukup klik tournamentsoftware.com untuk ngecek jadwal dan hasil pertandingan. Kalo beruntung ada live streaming. Nggak cuman itu, karena sekarang ada Twitter, bahkan jarak antara atlet dan fansnya makin deket. Satu-satunya atlet yang kedengeran namanya saat ini hanya Liliyana Natsir. Wew! Basis fans-nya gilaaaaaaaaaaaaaaa banget! Nggak hanya di Indonesia tapi juga di luar. She is outstanding because she is talented. Di usianya yang baru 19 tahun, dia udah berhasil menjadi juara dunia bersama Nova Widianto. Nggak hanya sekali tapi dua kali. Nggak hanya itu, mereka juga berhasil meraih perak Olimpiade Beijing. Bersama Vita Marissa, Liliyana berhasil menjuarai Indonesia Open 2008 dan China Master 2007 di mana saat itu ganda putri Cina mendominasi. Sekarang bersama Tontowi Ahmad, mereka diharapkan bisa mempertahankan tradisi emas Olimpiade di London. Oke. Stop right there. Gue tau mereka pasangan yang cepat naik, hanya perlu kurang dari 1 tahun, pasangan ini bisa masuk 4 besar dunia bersaing dengan pasangan lainnya. Tapi melihat rekam jejaknya, well, terakhir mereka juara MakauGPG. Selebihnya bahkan pernah nyangkut di babak 1 dan 2. Oke, mereka juga juara Sea Games (tapi lawannya semua itu itungannya lapis kedua). Trus juara di SingaporeSS 2011 dan finalis IndonesiaPSS 2011 and…that’s it. Really? Cuman mau bergantung sama 1 pasang ini?

Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir

Terakhir penyisihan Thomas dan Uber Cup 2012, please be realistic, I don’t think we will win the cup next May. Bayangin, tim Uber bahkan musti ikut babak play-off untuk masuk putaran final berebut tempat ke-5! Kita kalah lawan Thailand, Jepang, hampir kalah lawan Singapura! Mengutip perkataan temen gue, “Cobaan dari Tuhan apa lagi yang bisa buat lo sadar??”

Lalu kenapa hari ini gue memutuskan untuk menulis uneg-uneg gue selama 6 bulan terakhir? Karena gue baru saja menonton pertandingan final kualifikasi piala Uber antara Jepang dan Cina yang dimenangkan oleh… Jepang saat posisi mereka ketinggalan 2-0! Oke, tim Cina yang turun memang lapis kedua, tapi toh akhirnya memang bisa dikalahin. Apa kita bisa sementara Thailand aja berhasil mempecundangi kita 2x?

TL gue panas waktu babak penyisihan Uber Cup Indonesia vs. Thailand dimulai. Mulai dari susunan pemain hingga urutan pertandingan. Okey, it matters but it’s also a strategy. To win is about to plan and execute it well. Ada sii faktor keberuntungannya juga tapi keberuntungan itu datang dari persiapan yang matang, skill yang mumpuni dan mental juara.

Too pesimistic? Okay, coba simak ini, pernyataan dari salah satu legenda bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono, “Bulutangkis saat ini ‘memble’. Saya melihat ada persoalan dalam program pembinaan para atlet.  Masuk final, tim Uber sudah untung, mereka berjuang seperti itu. Kalau Thomas iya masuk final. Tapi untuk menjadi juara, maaf, saya kira itu sulit. Apalagi main di ‘kandang macan’ (Cina). Kualifikasi saja kita kalah kemarin.” Soal emas Olimpiade, ini katanya, “Hanya kalau ada keberuntungan bisa dapat emas. Saya bukan pesimis, pernyataan saya ini untuk memotivasi mereka.” Ivana Lie juga menyampaikan hal yang sama bahwa tradisi olimpiade bakal lepas. Belum lagi pendapat Taufik Hidayat soal mental pemain yang manja, nggak ada mental juara. Harusnya kalo kalah terus yah harus mau keluar dari pelatnas dan berjuang sendiri.

Ketika gue pikir kita nggak bisa lebih buruk lagi, gue salah. Setelah bertahun-tahun Thomas, Uber dan Sudirman Cup lepas, bisa jadi emas Olimpiade pun akan lepas tahun ini. Sama halnya seperti kita, ada manusia yang bisa dikasih tau baik-baik dan bisa berubah. Ada yang perlu ‘disentil’ dikit baru berubah. Ada yang perlu nyungsep dulu baru bisa berubah. Ada yang dijedotin berkali-kali baru akhirnya berubah. Nah, mungkin badminton kita perlu dijedotin berkali-kali sampe akhirnya sadar kalo kita ada di titik terendah dan perlu berubah. Apa yang harus berubah? Semuanya, atletnya, pelatihnya, pengurusnya, programnya, semuanya.

Like I said, I’m a huge fan of badminton. I always do. I’ll always wait till we come back. Till then, hang tough.

Kamis, 16 Februari 2012

I Present Adam Levine & Blake Shelton

Udah beberapa hari ini nonton The Voice dan seperti biasa gue nonton bukan karena pesertanya tapi juri-jurinya. Sampai akhirnya gue gak bisa memutuskan mana yang lebih okeh antara Adam Levine atau Blake Shelton. Lucu, karena gue nggak terlalu suka Maroon 5 dan nggak pernah denger satu pun lagu Blake Shelton sampai hari ini. Okay, terlepas dari lagu-lagu mereka, gue akhirnya malah asik nongkrongin foto-foto mereka & tentu saja pasangan mereka. Akhirnya, untuk meyakinkan pilihan antara dua cowok keren di The Voice, gue iseng googling foto-foto mereka di internet. Pas liat foto Blake, wow..., he is handsome! His eyes are blue. Woohooo! Sepertinya gue akan menjatuhkan pilihan gue pada Blake tapi pas gue browsing fotonya Adam...he is sexiest man alive! Well, I guess i'm back to square one. Hihihi.
Anyway, ini adalah beberapa foto yang berhasil gue kumpulkan. Manjakan mata kalian, Ladies! ;)

Adam Levine
Adam Levine




Adam Levine

Adam Levine*


Blake Shelton* on his cover "Red River Blue"

Blake Shelton at Grammy 2012

Blake Shelton

Blake Shelton
Sudah mulai panaskah? Hehehe, itu belum seberapa. Abis ini ada foto-foto mereka sama pasangan mereka masing-masing. Inget nggak dulu Adam pernah foto telanjang untuk kampanye kanker? Nah, nggak cuma itu, Adam ternyata beberapa kali melakukan sesi foto sama pacarnya yang merupakan supermodel Victoria Secret, Anne Vyalitsyna. How's their pictures? Supet hot!


Adam & Anne at Russian Vogue

Adam & Anne at the cover of Russian Vogue


Adam & yep, Anne's hands

Adam & Anne for Russian Vogue*



Blake Shelton menikah dengan Miranda Lambert. Berbeda dengan Adam & Anne yang berbeda profesi, Blake & Miranda sama-sama penyanyi country. Nggak seperti foto-foto Adam & Anne yang super hot, Blake & Miranda memberi kesan yang down-to-earth. Blake said, "I am married to my best friend." :')

Blake & Miranda

Blake & Miranda

Blake & Miranda


Blake & Miranda
Kedua pasangan ini juga lewat red carpetnya Grammy 2012:

Adam & Anne

Blake & Miranda
Kiss:
Adam & Anne
Blake & Miranda

Berikut juga ada video dari Maroon 5 "Never Gonna Leave This Bed" di mana Anne tampil sebagai model klip & video Blake Shelton "God Gave Me You" di mana Miranda muncul di awal & di akhir video.





Semakin bingung? Sama. Gue juga. Hahaha. Yang jelas, God must spent a little more time on both of them! Cheers!
Adam Levine
Blake Shelton

16 Februari 2012
3:05 p.m.
A 101
(di tengah revisi tesis --")

Kamis, 29 Desember 2011

Lesson Learnt


Malam ini gue baru saja menghadiri sebuah stand-up comedy Indonesia, Bhineka Tunggal Tawa menampilkan Pandji Pragiwaksono. Sebagai orang Indonesia, gue salut dengan Pandji yang memprakarsai banyak hal, menjalani hidup dengan passion-nya, dan dia lucu! :D
Yang mau gue sampaikan di sini adalah gue banyak belajar dari Pandji, gue belajar banyak tentang Indonesia dari Pandji, gue belajar untuk tidak mudah sensitif terhadap sesuatu dan mencerna apa yang coba disampaikan seseorang serta terus mengejar passion gue: menulis. Yep, menulis.
Kalau soal kecintaan gue terhadap Indonesia, kayaknya udah nggak mungkin ditanyain lagi betapa cintanya gue dengan Indonesia tapi mengetahui lebih banyak Indonesia betul-betul semakin menebalkan rasa cinta gue. Gue paling suka dengan fakta-fakta sejarah yang diungkapkan – walau pastinya kontroversial – tapi  memiliki perspekif berbeda dari apa yang selama ini kita tahu menurut gue perlu. Kenapa? Karena keraguanlah yang membuat kita semakin ingin mencari tahu kebenarannya. Seperti mencintai seseorang, bukankah kita harus mencintai bangsa ini dengan segala kebaikan dan keburukannya?
Sensitifitas bangsa Indonesia cukup luar biasa. Baru saja gue membaca timeline @Mongol_stres yang sibuk mengklarifikasi sesuatu yang berbau agama. Sepertinya, ada hal sensitif yang menjadi materi stand-up comedy-nya yang menyinggung beberapa pihak. Yang gue lihat bukannya hanya TL-nya saja tapi juga orang-orang yang mention. Wew! Ada ajah deh yang menghujat habis-habisan. Gue nggak bisa bayangin kalo itu gue. Gue bakalan kapok stand-up selama beberapa bulan ke depan. Lalu gue pun berpikir, sejauh mana materi sensitif ini bisa dikembangkan menjadi bahan becandaan? Apa iya beberapa comic ini cross the line? Atau kitanya yang simply sensitive? Beberapa hal yang gue secara pribadi tersinggung dengan materi Pandji karena hal tersebut bersinggungan langsung dengan kehidupan pribadi gue. Yep, nggak tanggung-tanggung, soal polisi dan kepolisian. Soal pekerjaan bokap gue. Bokap gue. My hero. Gue sempet unfollow Pandji ketika dia membahas soal itu. Namun seiring waktu, gue harus melihat ini dari persepsi berbeda. Harus diakui apa yang menjadi materi Pandji tentang polisi adalah benar, tapi seperti kata Pandji juga, jangan liat sesuatu plek-plekan hitam putih. Nggak semua polisi begitu, nggak semua polisi gaptek, masih banyak polisi yang bekerja untuk bangsa dan negaranya dengan baik dan bokap gue bukan orang suci :p Still, he’s my hero ;) Semacam menjadi resilient, sepertinya gue harus menarik terus garis toleransi gue agar nggak mudah sensitif karena sepertinya lebih mudah tertawa daripada mengkerut menyikapi ironi kehidupan.
Terakhir, setelah gue menyelesaikan S2, gue janji akan meneruskan hobi dan kesenangan gue sejak dulu: menulis. Entah apa yang membuat gue berhenti menulis. Sejak SMP, gue tidak pernah berhenti nulis sampai akhirnya gue masuk kuliah.  Mendekati semester akhir, gue berhenti menulis hingga…kini. Banyak hasil tulisan gue yang gue print dalam bentuk buku dan mengonggok di laci karena nggak ada yang mau nerbitin tulisa-tulisan gue. Beberapa kali gue mencoba, semua naskah gue dikembalikan. Mungkin karena penolakan gue inilah yang membuat gue berhenti menulis. Setelah baca buku Pandji dan nonton stand-up-nya hari ini, gue kembali berpikir, masa’ gue nggak punya passion selain ngajar sih? Lalu gue inget betapa gatelnya tangan gue untuk nulis tapi akhirnya nggak jadi apa-apa. Selama 2 jam, gue nulis dan berakhir dengan 3 tulisan setengah jadi yang akhirnya enggan gue teruskan, salah satunya gue apus file-nya. Lalu gue pun berpikir, kenapa nggak gue mulai lagi rajin nulis? Toh semua sinetron dan buku-buku nggak ‘menuntut’ banyak? Kalo baca tulisan gue dulu, nggak jauh beda noraknya sama jalan cerita sinetron sekarang dan terbukti sinetron sekarang episodenya panjang-panjang. Mungkin rumah produksi mau yah beli tulisan gue :p. Sekarang kesempatakan menerbitkan buku lebih banyak daripada dulu. Penerbit nggak hanya itu-itu aja. Isinya ya gitu-gitu aja lah. Penulis yang paling gue tunggu karya-karyanya hanya 2 orang: Andrea Hirata dan Raditya Dika. Andrea karena tulisannya yang cerdas dan lucu. Raditya Dika karena tulisannya yang seputar kehidupan yang sangat dekat dengan kita dan berhasil dia tuang ke dalam tulisan dengan sangat lucu. Jadi, apa tadi alasan gue berhenti nulis?

Minggu, 25 Desember 2011

"Ngucapin Selamat Natal itu Dosa"


*This is a sensitive topic. Hopefully, you're open-minded enough to read this. Happy reading!

Seperti Natal sebelumnya, selalu ada saja wacana muncul tentang tidak bolehnya umat Muslim mengucapkan Selamat Natal kepada umat yang merayakan. Sebelumnya gue nggak pernah tau tentang tidak bolehnya umat Muslim mengucapkan selamat sampai akhirnya seorang guru agama SD menyampaikan hal tersebut. Perlu dicatat bahwa guru agama ini adalah satu-satunya guru agama yang paling gue hormati sepanjang perjalanan pendidikan formal gue. Guru agama lainnya hanya mengajarkan doktrin dan masalah teknis tetapi tidak mencerminkannya di kehidupan sehari-hari. Tipikal. Jadi, setelah 11 tahun mengucapkan Selamat Natal kepada beberapa saudara yang menganut Kristen, gue pun terkejut. Mengucapkan Selamat Natal itu dosa. Nggak boleh.
Sebelum gue cerita lebih jauh, gue mau cerita latar belakang keluarga besar gue yang beberapa merayakan Natal. Adalah beberapa tante gue yang menikah dengan seorang Kristen yang menjadikan gue selalu ‘merayakan’ Natal setiap tahunnya (bahkan sehabis nulis ini, gue akan ke rumahnya merayakan Natal). Bahkan gue pernah beberapa tahun tinggal dengan salah satu tante gue dan ikut ngebantuin pasang pohon Natal. Nggak hanya itu, selama 5 tahun gue disekolahkan di sekolah Katholik sehingga gue akrab sekali dengan ritual Natal.
Ketika gue pindah ke SD lain saat kelas 5, inilah fakta yang akhirnya gue ketahui, mengucapkan Selamat Natal itu dosa. Terus gue musti gimana dong? Gimana kalo ada temen gue yang Natalan? Gimana dengan sodara-sodara gue? Masa’ gue nggak dateng ke Natalan mereka? Untungnya mereka paham dengan ‘kondisi’ gue yang dosa mengucapkan selamat Natal. Selama bertahun-tahun, gue harus menghadapi fakta bahwa berdosa mengucapkan Selamat Natal. Di satu sisi, sebagai ABG yang tumbuh dengan kondisi keluarga gue dan doktrinasi seperti ini, gue bingung & resah luar biasa. Ada yang salah nggak sih? Kalo emang harus begitu, seharusnya tidak meresahkan dan membingungkan. Seharusnya keyakinan tidak meresahkan, tetapi mendamaikan hati. Ini tidak. Gue resah.
Di satu sisi, gue merasa ‘nggak terima’ dengan doktrin ini karena nggak ada yang salah dengan hanya mengucapkan. Ini khan bagian dari silahturahmi yang harus dijaga. Menjalin silahturahmi adalah salah satu nilai Islam tapi di sisi lain mengetahui ini adalah ‘dosa’ sangat mengusik batin gue. Honestly, ‘till now. Belum lagi ada aja beberapa kenalan atau temen yang terus ‘mengingatkan’ soal ‘dosa’ ini di status FB atau Twitter mereka. Salah satunya, “Toleransi boleh, tapi jangan sampai meninggalkan akidah. Dengan dalil toleransi, dia meninggalkan akidahnya. Banyak yang ga tau ilmunya.” Yep, dan statusnya di-“like” beberapa orang dalam hitungan menit. Well, kurang paham apa maksud dari 'ilmu' di sini, hanya gue menekankan, kalo mencoba membuat pernyataan, harusnya jangan setengah-setengah, ibaratnya macam #nomention. Belon lagi isi ceramah shalat Jum’at minggu ini yang isinya, “Boleh menolong non-muslim yang kesulitan, tapi ketika natalan, jangan mengucapkan selamat natal.” Yep, pas shalat Jum’at, di mana corong mesjid yang nyaringnya tak terbantahkan, di dengar oleh seluruh orang kompleks yang jelas-jelas banyak orang non-muslim tinggal di kompleks gue.
Untuk jelasnya, mungkin yang dia maksud ilmu di sini adalah alasan kenapa Muslim dilarang mengucapkan Selamat Natal. Begini loh, jadi yang gue tahu adalah perayaan Natal itu khan untuk memperingati hari lahirnya Tuhan Yesus, Tuhan umat Kristen. Nah, kalo orang Muslim mengucapkan Selamat Natal, itu artinya sebagai Muslim, gue mengamini kelahiran Tuhan Yesus. Artinya gue sebagai Muslim menyekutukan Tuhan gue, Allah SWT, yang artinya lagi itu dosa tertinggi dari semua dosa yang mungkin dilakukan orang Muslim: menyekutukan Allah SWT. Ini dosa besar sekali! Oke, mengimani Tuhan selain Allah SWT itu emang dosa besar tapi apakah dengan mengucapkan Selamat Natal terus gue jadi mengamini adanya Tuhan selain Allah SWT? Please, sebelum emosi, hold that thought. Thanks. (gue yakin temen-temen Muslim pada kebakaran jenggot baca tulisan gue :p)
Yang mau gue sampaikan di sini bukanlah beradu argumen tentang apakah ini dosa atau bisa dinegosiasikan lagi. Nope. Not at all. Mengingat kita tinggal di Republik Indonesia yang mengakui setidaknya 5 keyakinan, bukankah sudah sepatutnya gue juga punya hak untuk menyampaikan pendapat gue soal ini? Gue nggak masalah sejuta umat Muslim bilang gue pendosa dengan mengucapkan Selamat Natal ke seluruh teman dan keluarga gue yang merayakan, tapi jangan paksa gue untuk mengubah keyakinan gue bahwa hanya dengan mengucapkan Selamat Natal artinya gue menyekutukan Tuhan gue, Allah SWT. Iman gue enggak sedangkal itu.
Iman. Itu milik hati. Gue paling nggak suka jika keyakinan gue diusik, dipertanyakan, diragukan. Stop right there. Keyakinan gue itu adalah urusan gue dengan Tuhan gue. Hubungan paling romantis gue dengan Allah SWT dan nggak seorang pun boleh mengusiknya. Cukup deh kayaknya doktrin yang gue terima seumur hidup gue dari pelajaran di sekolah sampe les ngaji gue soal surga-neraka, pahala-dosa. Apalagi ngeliat banyak banget penyiar agama yang jadi artis nggak karuan. Partai-partai berbasis agama yang jatoh-jatohnya korup juga. Stop right there, Arin. Konteks lo melebar.
Christmas Celebration 2008
Gue ini penuh dosa menurut konteks Islam yang selama ini gue pelajari seumur hidup gue. Gue males shalat, puasa Ramadhan banyak bolong, nggak pernah baca Qur’an, dan terakhir gue mengucapkan Selamat Natal kepada teman-teman & kerabat Kristen gue. Lengkap sudah. Hanya saja, gue berserah sama Allah SWT. Terserah mau dibawa gue ke mana nanti matinya gue, mudah-mudahan mati dalam keadaan baik. Namun syukur paling tinggi gue panjatkan ke Allah SWT karena sudah menciptakan gue dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memberikan tugas di dunia ini, untuk kebaikan diri sendiri dan mudah-mudahan masyarakat banyak. Janji, nggak akan gue sia-siakan kesempatan hidup ini.
Terakhir, Selamat Natal, dear Friends & Families yang merayakan. Terima kasih untuk teman & keluarga yang memaklumi kondisi ini. Gue yakin, apapun agama elo, hanya satu khan yang elo mau; semoga damai menyertai seluruh umat manusia di Bumi. Right? :)

Minggu, 23 Oktober 2011

Bandung Bondowoso

“Kesuksesan seseorang bukan di saat ia berada di titik tertingginya, tetapi di titik ketika orang tersebut mampu bangkit kembali di titik terendah dalam hidupnya.”                                                                  Mas Saleh, Paskibra 78

Tesis.

Perut gue selalu mules mendengar kata itu. Nggak hanya mendengar kata itu, juga ketika gue melihat teman-teman gue mengerjakannya dengan segala keribetannya. Gue mules tapi gue juga males. Gue pun berpikir, apa sii yang menbuat gue mules, takut dan males ngerjain tesis?

Sebutlah…gue tidak bersyukur dengan apa yang gue punya saat ini yang menghambat pengerjaan tesis gue. Hmm…, puzzling, eh?

Kemarin gue baru saja bertemu dengan seorang teman kampus yang sudah lulus, dengan segala keribetan dan protokoler tesis, gue dijejelin bermacam hal yang bikin gue pengen banting laptop gue dan pergi. I hate school! I hate thesis! *ngelengos. Agak ironis sebenernya ketika gue yang mendedikasikan hidup gue untuk pendidikan tetapi benci dengan protokoler pendidikan itu sendiri. Setelah dibombardir bermacam protokoler tesis, gue cuman bisa bengong aja sambil nggak tau apakah gue mampu ngerjain semuanya hanya dalam 1 bulan. Kalo cuman mengerjakan tesis tanpa peduli apakah gue ngerti atau enggak, gue nggak akan bingung kayak gini. Masalahnya, gue nggak ngerti sama sekali apa yang baru aja disampein sama temen gue dengan apa yang disebut dengan ‘tesis’.

Gue pulang. Nggak pulang sii tepatnya. Gue memutuskan untuk menghibur diri sendiri dengan makan di Nanny’s Pavillon memesan menu ‘sederhana’ kesukaan gue, Smoked Beef Spagetti. Dalam kesendirian gue, di tengah hiruk-pikuk malam mingguan di Central Park, gue membatin sambil menyuap sendok pertama, “ Bismillah. Heal me, come on, heal me.” Alhamdulillah, gue kenyang.

Hari itu, gue punya acara lain, pelantikan (yang sekarang disebut Diksar) Paskibra 78. Saat ini gue tidak terlibat lagi di setiap kegiatan yang diadain ekskul yg gue ikuti saat gue SMA ini tapi gue hampir nggak pernah absen dateng ke pelantikan. Sepanjang perjalanan dari CP ke 78, gue merenung melakukan napak tilas perjalanan gue selama gue kuliah, bahkan gue mundur lebih ke belakang saat gue kuliah S1. Apa gue sengaco ini ngerjain skripsi? Gue berhasil mengerjakan skripsi gue dalam 3 bulan. Sekarang, gue hanya punya waktu 1 bulan setelah memperpanjang 1 semester. Gue mau nangis saat menyetir ke 78, tapi enggak, gue tau gue nggak akan segampang itu menangis untuk sesuatu yang nggak perlu gue tangisi. Gue mudah menangis untuk sesuatu yang menyentuh, tapi nggak ini, bisa sii nangis, tapi dipaksa, but what’s the point, eh? Tapi akhirnya gue bersuara, “God, am I strong enough? God, tell me, am I strong enough?” sambil terus menyetir mendekati 78, rumah kedua gue. Nah, saat gue tidak menangis, yep, gue kuat, gue bisa!

Sesampainya di 78, gue bertemu dengan senior, kakak, sekaligus pembimbing spiritual gue (halah), Mas Saleh, dan langsunglah gue curhat soal tesis gue. Seperti biasa, ketika gue mengeluh, dia hanya bilang, “Bisa lah kamu.” Karena dia mengikuti perjalanan hidup gue selama 12 tahun, gue percaya aja dengan yang dia bilang.

“Dulu waktu kamu ngerjain skripsi, saya baru deg-degan, bisa nggak ni anak selesai. Tapi kalo sekarang, dalam 2 minggu, kamu bisa nyelesaian itu semua.”

I was speechless. Seinget gue, pada saat skripsi, kayaknya lebih gampang gue ngerjain itu, apa-apa lebih terstruktur, dan gue selalu konsultasi setiap minggu. Terjadwal. Sekarang nggak hanya gue harus ngejar dosen ke Karawaci, tapi gue harus meruntuhkan segala keegoan, kekesalan, keputusasaan, keluhan dan ketidakpercayaan diri gue.

“Dulu kamu itu belum stabil, masih bermasalah dengan orang tua kamu, belum lagi adik kamu. Hampir setiap ketemu saya, kamu selalu mengeluh itu. Sekarang udah nggak pernah lagi. Kamu berubah banyak, bukan orang tua kamu yang berubah, mereka udah tua. Kamu yang berubah.”

Gue lagi-lagi hanya bengong sambil menyerap maksudnya.

“Emang ngaruh ya, Mas?”

“Ya ngaruh lah. Kamu sudah stabil sekarang.”

“Trus kenapa saya masih kayak gini sekarang? Kenapa saya masih ngeluh?”

“Ya karena kamu manusia, wajar lah kalo ngeluh. Manusia itu hidup ada naik turunnya. Sesekali mengeluh itu manusiawi. Kesuksesan seseorang bukan di saat ia berada di titik tertingginya, tetapi di titik ketika orang tersebut mampu bangkit kembali di titik terendah dalam hidupnya.”

Kuat. Apakah gue cukup kuat untuk bangkit dari titik terendah gue?

“Karena kamu sudah lama di Paskibra, kalian sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.”

Lalu Mas Saleh memberikan contoh seorang adik gue yang berbeda 5 tahun dari gue, “Maaf ya, Dek, banyak yang bilang kalo hidup kamu bakal hancur setelah kamu lulus SMA tapi karena saya lihat kamu di Paskibra, saya yakin kamu bisa bertahan dan sukses. Mungkin nilai akademik kamu nggak bagus, keluarga kamu berantakan, tapi saya melihat sikap kamu di Paskibra & kamu berhasil di sini. Gak masalah, ilmu di Paskibra itu ilmu hidup, kamu berhasil di sini, kamu bisa berhasil di dunia luar sana.”

“Trus kenapa sekarang saya terseok-seok begini, Mas? Saya nggak suka sekolah dan semua protokolernya. Kenapa pengalaman hidup saya mengajar nggak cukup menjadikan saya seorang profesional?”

“Masalahnya kamu kurang bersyukur dengan apa yang udah kamu punya sekarang.”

Oke. Maksdunya…

“Coba liat, kamu punya segalanya, kamu tinggal menggunakannya. Banyak yang nggak mampu untuk sekolah lagi, tapi kamu bisa. Kamu hanya perlu memanfaatkan. Kamu juga harus mengubah alasan kenapa kamu harus menyelesaikan kuliah kamu karena selama ini kamu menjadikan kuliah kamu sebagai kewajiban kamu, bukan sebagai pembuktian bahwa kamu adalah seorang profesional.”

“Loh, apa nggak cukup dengan 4 tahun saya bekerja sebagai guru?”

“Ya nggak cukup lah, masih jauh perjalanan kamu. Bedakan juga dengan kamu menjalankan sesuatu yang kamu suka untuk kebaikan dan kesenangan kamu sendiri dengan kamu menjalankan sesuatu karena itu adalah kebenaran, sesuatu yang harus kamu buktikan sesuai dengan aturan yang berlaku. Menyelesaikan kuliah kamu adalah pembuktian bahwa kamu mampu menjadi profesional.”

Lagi-lagi gue melakukan napak tilas sepanjang 2 tahun perjalanan kuliah master gue. Untuk orang yang tidak suka sekolah, gue berhasil menyelesaikan seluruh mata kuliah gue tanpa mengulang, dengan 4 mata kuliah bernilai B & B+, sisanya bernilai A-. Seluruh tugas gue kerjakan dengan baik tanpa pernah melewatkan batas akhir yang ditentukan. Hey, that’s amazing! Belum lagi kebiasaan buruk gue yang nggak pernah ilang, ngerjain sesuatu dengan SKS: Sistem Kebut Semalam! Mengambil istilah dari Jeung Windy yang juga kuliah di tempat yang sama, “Gue ini kayak Roro Jonggrang kalo ngerjain tugas.” Hahahaha, mungkin maksudnya Bandung Bondowoso yang ngerjain 999 candi dalam semalam. Yep, itulah gue. Sayangnya, gue tidak bisa mengubah sifat buruk gue ini. 

Mengenang masa ke belakang membuat gue selalu tersenyum. Gimana bisa gue melakukan semuanya? Tapi yang paling penting, kenapa gue memutuskan untuk kuliah lagi? Pada akhirnya gue hanya bisa tersenyum, mencoba menegakkan kepala gue, dan berkata, “Ayolah, apa sii yang nggak bisa elo kerjakan?” Keyakinan ini semakin besar ketika gue mengenal sekali diri gue sebagai seseorang yang mungkin cemen, mungkin cengeng, mungkin penakut, mungkin nggak percaya diri, mungkin jutek, mungkin pemalu, tetapi gue selalu menyelesaikan apa yang sudah gue mulai. Selalu!

Akhirnya gue sadar hanya gue yang bisa menyelesaikan tahapan hidup gue yang satu ini. Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung dan, yang paling penting, percaya sama gue ketika gue bahkan lupa kalo gue mampu. Satu bulan lagi adalah pembuktian.

Si Ontacerdas bernama tengah Bandung Bondowoso ini akan membangun candi terakhirnya untuk seluruh Roro Jonggrang yang percaya pada kemauan, kegigihan & kemajuan pendidikan.

My Bedroom
23 October 2011
7.49 p.m.

Selasa, 30 Agustus 2011

"Hari Ini Puasa Haram"


Pagi ini gue harus bangun untuk sahur jam 3 pagi setelah sebelumnya seluruh rakyat Indonesia yakin seyakin-yakinnya kalau hari ini sudah Lebaran. Untuk pertama kali setelah 27 tahun gue mendiami tanah Indonesia, pemerintah tidak ‘sepakat’ dengan tanggalan merah di kalender. Sepanjang hari (Senin, 29 August 2011) gue sudah menerima berbagai ucapan Maaf Lahir Bathin – terima kasih untuk semua yang meluangkan waktu untuk mengirimkan ucapan ke gue – dan temen-temen non-muslim gue pun bertanya, “Kapan Lebaran?” – bah berasa ditanya kapan kawin, kapan punya anak – jawaban gue tetep, “Nggak tau,” temen-temen gue pun makin bingung. Akhinya setelah sidang isbat menetapkan bahwa Lebaran jatuh pada hari Rabu, 31 August 2011, maka suami gue pun memutuskan untuk berpuasa besok harinya. Sedangkan bokap nyokap gue tidak.

Jam 10 pagi gue bangun setelah makan sahur jam 3 pagi dan beranjak ke kamar bokap. Rencananya gue akan berkunjung ke rumah nenek suami gue kalau hari ini sudah Lebaran. Mertua gue bilang kalo semua sodara-sodaranya udah Lebaran hari ini. Tapi nenek Lebaran tetap ngikutin pemerintah. Artinya gue nggak jadi lebaran ke rumah nenek suami gue. Yep, gue sekarang malah maenin laptop sementara bokap nyokap gue berencana nonton Transformer 3. Namun ada pernyataan bokap gue yang cukup mengejutkan gue,

“Puasa hari ini haram tau nggak.”

Marilah kita telaah lagi bahwa memang ada waktu-waktu di mana puasa diharamkan bagi umat Islam, antara lain pada saat Idul Fitri & Idul Adha. Haram adalah salah satu hukum Islam di mana jika kita melakukan maka kita akan berdosa dan akan mendapat pahala jika kita tidak melakukannya. Pernyataan bokap gue sebenernya menarik karena sejak kapan bokap gue begitu ‘peduli’ dengan term ‘haram’ dan ‘halal’? Perlu diketahui sedikit latar belakang religius keluarga gue. Sepanjang hidup gue, orang tua gue tidak begitu menekankan penerapan agama secara praktikal. Maksdunya gue tidak dipaksa untuk shalat, puasa, mengaji walaupun mereka memfasilitasinya. Dari kecil gue diajarkan baca Qur’an & belajar shalat oleh guru ngaji namun orang tua sendiri tidak mengajarkan secara langsung. Yang justru gue ingat dari pendidikan religius dari orang tua gue adalah bahwa sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini kita harus saling mengasihi, memberi dan menghormati perbedaan. Gue cukup terkesima melihat perubahan mereka yang perlahan namun pasti mulai ‘mempermasalahkan’ pritilan semacam ini. Karena ketika gue sudah mulai menemukan hakikat puasa itu sendiri, gue merasa orang tua gue ‘berjalan’ ke arah yang lain.

Yep, gue masih ‘berjuang’ untuk menemukan kesejatian shalat tapi gue merasa sudah mulai menemukan kesejatian puasa di tahun ini. Hal ini tanpa gue sadari gue ‘temukan’ ketika gue sedang ngobrol dengan partner gue di kelas. Gue merasa sangat beruntung bisa bekerja di tempat dengan beragam etnis, kepercayaan, bahkan kebangsaan karena pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti, “Kenapa 21 di sini nggak impor film Hollywood lagi sekarang?”, atau “Kenapa kamu nggak punya family name?”, atau “Kenapa orang Islam puasa?” Pertanyaan terakhir ini pernah ditanyakan di awal minggu bulan puasa tahun ini oleh partner gue dan seinget gue dia juga pernah bertanya dulu. Gue pun nggak menyangka akan penjelasan yang gue berikan ke dia ketika tepatnya dia bertanya,

“Kenapa KAMU puasa?”

Hmm… karena gue ini bukan Islam yang praktikal. Gue nggak shalat, gue udah lama nggak baca Qur’an, dan sejumlah ritual keagamaan yang harusnya gue lakukan sebagai muslim. Tapi puasa gue merasa beda, gue puasa karena ini saatnya di mana gue menghormati Allah SWT, Tuhan gue, mengucap syukur atas berkah dan rahmah-Nya, mengikuti semua aturan praktikal berpuasa. Puasa mendekatkan gue dengan Tuhan gue secara religius karena gue juga mempunyai beberapa cara mendekatkan diri dengan Allah SWT, salah satunya dengan bekerja menjadi guru J. Yep, gue berpuasa karena ini cara gue mengucap syukur kepada Allah SWT dan nggak yang lain. Tahun ini gue kehilangan banyak hari puasa karena gue sakit, tapi gue mendapatkan seminggu puasa paling bermakna dalam hidup gue di minggu pertama puasa. Di minggu itu, gue merasa enjoy menjalankan aktivitas. Gue tidak menggunakan alasan gue sedang berpuasa untuk tidak melakukan sesuatu seperti bekerja seperti biasa – bahkan lebih sibuk supaya nggak berasa laper :p – tetep olahraga sejam sebelum buka dan diterusin seperti biasa.

Lalu tibalah hari ini, 30 Agustus 2011, kalender sih udah merah yah, tapi karena sidang isbat memutuskan kalo Lebaran masih besok, maka hari ini gue masih berpuasa. Kali ini gue punya alasan lain kenapa gue berpuasa, karena suami gue mengimani bahwa sebagai umat Islam kita harus taat pada keputusan pemerintah karena kita tidak mengikuti aliran manapun. Alhamdulillah, gue ikhlas mengikuti keputusan suami dan gue menghormati keputusannya.

Lalu apakah tindakan gue haram? Alhamdulliah lagi, gue tidak merasa seperti itu karena gue melakukannya semata-mata karena gue mengikuti imam gue dan ini adalah bagian dari cara gue bersyukur kepada Allah. Cuma satu hal: it feels right J. Jadi apalah arti haram dan halal ketika jauh di lubuk hati terdalam elo tau apa yang salah dan bener?

Gue cuman cengar-cengir aja memantau status BBM dan Twitter yang ribut soal perbedaan ini, gue nggak menanggapi sama sekali. Tapi dengan media ini gue mengomentari bahwa apakah sedangkal itu keimanan elo sampe harus ribut? Gimana kita bisa akur antar agama ketika kita masih ribut nentuin kapan Lebaran? PR abis! Namun harus gue akui bahwa lucu karena ada 1 kejadian yang sebenernya sepele tapi ternyata signifikan dan mengganggu: opor ayam & ketupat bisa basi kalo Lebaran mundur! :D

Pada akhirnya gue mengucapkan Minal Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua kembali suci di bulan baru. Surely will gonna miss our fasting ritual: buka puasa bareng karena puasa nggak hanya mengucap syukur tapi juga menyambung & mempererat tali silahturahmi.

Hotel Atlet Century Park Jakarta

Room 737

11:07 a.m.