Kamis, 29 Desember 2011
Lesson Learnt
Minggu, 25 Desember 2011
"Ngucapin Selamat Natal itu Dosa"
*This is a sensitive topic. Hopefully, you're open-minded enough to read this. Happy reading!
| Christmas Celebration 2008 |
Minggu, 23 Oktober 2011
Bandung Bondowoso
“Kesuksesan seseorang bukan di saat ia berada di titik tertingginya, tetapi di titik ketika orang tersebut mampu bangkit kembali di titik terendah dalam hidupnya.” Mas Saleh, Paskibra 78
Selasa, 30 Agustus 2011
"Hari Ini Puasa Haram"
Pagi ini gue harus bangun untuk sahur jam 3 pagi setelah sebelumnya seluruh rakyat Indonesia yakin seyakin-yakinnya kalau hari ini sudah Lebaran. Untuk pertama kali setelah 27 tahun gue mendiami tanah Indonesia, pemerintah tidak ‘sepakat’ dengan tanggalan merah di kalender. Sepanjang hari (Senin, 29 August 2011) gue sudah menerima berbagai ucapan Maaf Lahir Bathin – terima kasih untuk semua yang meluangkan waktu untuk mengirimkan ucapan ke gue – dan temen-temen non-muslim gue pun bertanya, “Kapan Lebaran?” – bah berasa ditanya kapan kawin, kapan punya anak – jawaban gue tetep, “Nggak tau,” temen-temen gue pun makin bingung. Akhinya setelah sidang isbat menetapkan bahwa Lebaran jatuh pada hari Rabu, 31 August 2011, maka suami gue pun memutuskan untuk berpuasa besok harinya. Sedangkan bokap nyokap gue tidak.
Jam 10 pagi gue bangun setelah makan sahur jam 3 pagi dan beranjak ke kamar bokap. Rencananya gue akan berkunjung ke rumah nenek suami gue kalau hari ini sudah Lebaran. Mertua gue bilang kalo semua sodara-sodaranya udah Lebaran hari ini. Tapi nenek Lebaran tetap ngikutin pemerintah. Artinya gue nggak jadi lebaran ke rumah nenek suami gue. Yep, gue sekarang malah maenin laptop sementara bokap nyokap gue berencana nonton Transformer 3. Namun ada pernyataan bokap gue yang cukup mengejutkan gue,
“Puasa hari ini haram tau nggak.”
Marilah kita telaah lagi bahwa memang ada waktu-waktu di mana puasa diharamkan bagi umat Islam, antara lain pada saat Idul Fitri & Idul Adha. Haram adalah salah satu hukum Islam di mana jika kita melakukan maka kita akan berdosa dan akan mendapat pahala jika kita tidak melakukannya. Pernyataan bokap gue sebenernya menarik karena sejak kapan bokap gue begitu ‘peduli’ dengan term ‘haram’ dan ‘halal’? Perlu diketahui sedikit latar belakang religius keluarga gue. Sepanjang hidup gue, orang tua gue tidak begitu menekankan penerapan agama secara praktikal. Maksdunya gue tidak dipaksa untuk shalat, puasa, mengaji walaupun mereka memfasilitasinya. Dari kecil gue diajarkan baca Qur’an & belajar shalat oleh guru ngaji namun orang tua sendiri tidak mengajarkan secara langsung. Yang justru gue ingat dari pendidikan religius dari orang tua gue adalah bahwa sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini kita harus saling mengasihi, memberi dan menghormati perbedaan. Gue cukup terkesima melihat perubahan mereka yang perlahan namun pasti mulai ‘mempermasalahkan’ pritilan semacam ini. Karena ketika gue sudah mulai menemukan hakikat puasa itu sendiri, gue merasa orang tua gue ‘berjalan’ ke arah yang lain.
Yep, gue masih ‘berjuang’ untuk menemukan kesejatian shalat tapi gue merasa sudah mulai menemukan kesejatian puasa di tahun ini. Hal ini tanpa gue sadari gue ‘temukan’ ketika gue sedang ngobrol dengan partner gue di kelas. Gue merasa sangat beruntung bisa bekerja di tempat dengan beragam etnis, kepercayaan, bahkan kebangsaan karena pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti, “Kenapa 21 di sini nggak impor film Hollywood lagi sekarang?”, atau “Kenapa kamu nggak punya family name?”, atau “Kenapa orang Islam puasa?” Pertanyaan terakhir ini pernah ditanyakan di awal minggu bulan puasa tahun ini oleh partner gue dan seinget gue dia juga pernah bertanya dulu. Gue pun nggak menyangka akan penjelasan yang gue berikan ke dia ketika tepatnya dia bertanya,
“Kenapa KAMU puasa?”
Hmm… karena gue ini bukan Islam yang praktikal. Gue nggak shalat, gue udah lama nggak baca Qur’an, dan sejumlah ritual keagamaan yang harusnya gue lakukan sebagai muslim. Tapi puasa gue merasa beda, gue puasa karena ini saatnya di mana gue menghormati Allah SWT, Tuhan gue, mengucap syukur atas berkah dan rahmah-Nya, mengikuti semua aturan praktikal berpuasa. Puasa mendekatkan gue dengan Tuhan gue secara religius karena gue juga mempunyai beberapa cara mendekatkan diri dengan Allah SWT, salah satunya dengan bekerja menjadi guru J. Yep, gue berpuasa karena ini cara gue mengucap syukur kepada Allah SWT dan nggak yang lain. Tahun ini gue kehilangan banyak hari puasa karena gue sakit, tapi gue mendapatkan seminggu puasa paling bermakna dalam hidup gue di minggu pertama puasa. Di minggu itu, gue merasa enjoy menjalankan aktivitas. Gue tidak menggunakan alasan gue sedang berpuasa untuk tidak melakukan sesuatu seperti bekerja seperti biasa – bahkan lebih sibuk supaya nggak berasa laper :p – tetep olahraga sejam sebelum buka dan diterusin seperti biasa.
Lalu tibalah hari ini, 30 Agustus 2011, kalender sih udah merah yah, tapi karena sidang isbat memutuskan kalo Lebaran masih besok, maka hari ini gue masih berpuasa. Kali ini gue punya alasan lain kenapa gue berpuasa, karena suami gue mengimani bahwa sebagai umat Islam kita harus taat pada keputusan pemerintah karena kita tidak mengikuti aliran manapun. Alhamdulillah, gue ikhlas mengikuti keputusan suami dan gue menghormati keputusannya.
Lalu apakah tindakan gue haram? Alhamdulliah lagi, gue tidak merasa seperti itu karena gue melakukannya semata-mata karena gue mengikuti imam gue dan ini adalah bagian dari cara gue bersyukur kepada Allah. Cuma satu hal: it feels right J. Jadi apalah arti haram dan halal ketika jauh di lubuk hati terdalam elo tau apa yang salah dan bener?
Gue cuman cengar-cengir aja memantau status BBM dan Twitter yang ribut soal perbedaan ini, gue nggak menanggapi sama sekali. Tapi dengan media ini gue mengomentari bahwa apakah sedangkal itu keimanan elo sampe harus ribut? Gimana kita bisa akur antar agama ketika kita masih ribut nentuin kapan Lebaran? PR abis! Namun harus gue akui bahwa lucu karena ada 1 kejadian yang sebenernya sepele tapi ternyata signifikan dan mengganggu: opor ayam & ketupat bisa basi kalo Lebaran mundur! :D
Pada akhirnya gue mengucapkan Minal Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua kembali suci di bulan baru. Surely will gonna miss our fasting ritual: buka puasa bareng karena puasa nggak hanya mengucap syukur tapi juga menyambung & mempererat tali silahturahmi.
Hotel Atlet Century Park Jakarta
Room 737
11:07 a.m.
Minggu, 19 Juni 2011
It is not a Goodbye


Hmm…, udah lama banget gue nggak nulis di blog ini. Pada akhirnya gue menulis kali ini karena gue nggak mau kenangan ini hilang tanpa jejak sedikit pun. Kenangan yang akan gue bawa seumur hidup.
Pada tanggal 5 Juni 2011, ini adalah salah satu dari 3 tweet yang gue posting:
“It’s gonna be an emotional week ahead :’)”
Nggak terasa ternyata minggu itu adalah minggu terakhir gue bekerja sebelum libur panjang tiba. Rasa kehilangan selalu timbul di minggu terakhir sekolah. Tak hanya rasa kehilangan, namun juga ketidakpastian di tahun ajaran baru dan segala tantangannya.
Tapi tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Empat dari teman dekat gue di sekolah akan mengundurkan diri untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. Mimpi yang mungkin terlalu takut untuk gue kejar namun mereka berani. Nekat tepatnya :D
Tanggal 9 Juni 2011 adalah hari perpisahan formal yang diadakan oleh kepala sekolah. Sejak pagi, gue begitu emosional mengingat mereka akan mengucapkan salam perpisahan di siang hari. Ketika salah satu teman gue meminta gue untuk menandatangi farewell card saat meeting, gue menangis. Yep, menangis di tengah meeting, di saat gue harusnya berkonsentrasi. But I couldn’t help it. I didn’t know why.
Bener ajah, selama acara perpisahan, gue nggak berhenti menangis menyaksikan satu per satu dari mereka mengucapkan salam perpisahan. Tapi sebenernya apa yang gue takutkan dari perpisahan ini?
J misalnya dia bakal tetep ada di Jakarta dan nggak akan jauh kemana. Jeung malah udah jelas bakal ngajar di sekolah apa. Peow? Dia bahkan ngekos di deket rumah gue. Mungkin perpisahan dengan si Coi2 yang membuat gue begitu sedih karena dia akan pindah ke Bali (semoga untuk alasan yang tepat & terbaik)
Lalu gue sedikit demi sedkit menyadari kenapa gue begitu emosional dan takut dengan perpisahan ini karena…gue akan merasa sendirian berjuang sekarang. Am I strong enough?
Ketika gue menangis, gue sendiri. Gogo bahkan jauh dari gue saat itu. Tapi gue melihat dia juga menangis. Entah apa kesedihan terdalamnya melihat 3 teman seangkatannya harus pergi tahun itu.
Sore menjelang malam pas lagi maen badminton, tiba-tiba Gogo pengen ngasi kenang-kenangan ke 4 anak ituh, so…akirnya gue memutuskan untuk bikin scrap in frame yang isinya foto-foto kita selama 3 tahun terakhir. Sebelumnya gue sudah membuat untuk Peow & J karena memang mereka mau ulang tahun. Nah, gimana dengan si Jeung & Coi2? Mau nggak mau gue bikin setelah pulang dari maen badminton & frame-nya nggak bisa beli malam ini karena Peow & Coi2 pulang bareng gue. So?
Pulang dari badminton, dengan sisa tenaga & foto2 yang ada, gue membuat 2 scrap lagi sampai jam setengah 1 pagi. Untungnya ketika mata gue udah sepet, kerjaannya udah beres. Fiuuhh!
Pada tanggal 10 Juni 2011, gue menangis lagi membaca twitter si Peow di mobil:
“Will be missing this morning chat and our silent morning, @arinariane”
Semuanya berubah dan gue nggak suka terlalu banyak perubahan. Tanpa gue sadari kepergian mereka menyebabkan gue menyadari betapa banyak temen-temen gue memaknai hari-hari gue selalu 3 tahun terakhir. Teman-teman yang sejak awal tidak pernah gue bayangkan akan bisa sedekat ini.
Oleh karena itu, untuk pertama kalinya, gue melakukan hal paling ‘nekat’ yang mungkin gue lakukan selama gue bekerja di sekolah itu: ngabur di jam kantor & keseruan pun dimulai *buckle up!
It is a perfect way to wrap up this academic year!
8:30 a.m.
Tiba di kelas dengan perasaan deg-degan karena musti nyiapin 2 frame foto buat Jeung & Coi2. Gue berusaha untuk mengalihkan perhatian si Peow karena dia selalu ada di kelas gue. Tapi untungnya dia pergi buat ngurusin surat-surat. Udah gitu masih ada beberapa foto yang mau diprint karena semalem printer gue kolaps semua.
09:30 a.m.
Tibalah waktunya untuk segera meninggalkan kelas dan meluncur ke Semanggi seperti yang telah direncanakan semalam. Yep. Gue dan Gogo berencana untuk ngabur ke Semanggi untuk membeli 2 buah frame lagi. Harap dicatat bahwa definisi ‘ngabur’ di sini adalah pergi dari sekolah tanpa izin dari atasan. Ngahahahaha! Tak hanya itu, gimana caranya pergi tanpa dicurigai yang lainnya. Akhirnya gue dan Gogo memutuskan untuk cepet-cepet cabut.
Di tengah jalan, Gogo menyadari, “Ini bukannya masih 3 in 1 ya?”
“Joki?”
“Enggak ah, serem!”
Dua detik kemudian, gue pun langsung nyuruh Gogo nelpon bala bantuan,”Agus Leo.”
Untungnya kami masih belum jauh, gue langsung banting setir dan kembali ke sekolah. Tanpa babibu lagi, Agus Leo langsung kita angkut ke Semanggi tanpa dia tau mau dibawa kemana!
10:10 a.m.
Sampailah kami Semanggi setelah dideketin sama joki 3 in 1 dan berasa disuruh setop sama polisi di bawah jemabatan Semanggi serta ‘dipalak’ abang-abang yang bagi-bagi booklet doa-doa. Emang kami udah prediksi kalo tokonya belum buka dan si satpam bilang kalo tokonya buka jam setengah 11.
Karena laper, kami memutuskan untuk makan di kantin Atma dengan menu bakmi ayam bakso, kuetiau rebus dan bihun babi. Nyam! Setelah menjadi intruder di kampus orang, kami pun kembali ke Semanggi dengan harapan toko udah buka tapi ternyata belon, Sodara-sodara!
Akhirnya gue menjogrok seenak jidat di depan tokonya karena kaki udah mulai lecet (salah kostum karena pake jas & sepatu tanpa kaos kaki) sementara Gogo ke Gramedia mencari alternatif. Gue? Mengutuk si mbak-mbak toko, “Ini gimana mo untung jam 11 lewat belon buka!”
Akhirnya setelah semua kebeli, kami balik ke sekolah dan berharap-harap cemas semoga nggak ada yang tau kita ngabur :P
1:30 p.m.
Setelah balik dari kantin untuk makan siang akhir tahun ajaran, gue membereskan semua barang-barang untuk pindahan. Emosi yang gue rasakan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kesedihan untuk meninggalkan kelas yang telah gue tempati selama 1 tahun sepertinya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Gue sama sekali tidak bersemangat untuk pindah, gue bahkan memindahkan barang-barang di hari terakhir dan nggak banyak yang gue bawa. Kehilangan akan anak-anak juga tidak terlalu besar, mungkin karena sebagian dari mereka akan menjadi murid gue lagi di tahun depan.
Tapi gue sedih, kesedihan mendalam yang enggan gue tunjukkan. Sementara teman-teman gue berkeliling untuk berpamitan karena mereka akan mengundurkan diri tahun ini, gue sendirian di kelas ditemenin sama laptop dan lagu dari speaker yang cukup keras, mencoba untuk menenggelamkan kesedihan gue. Bosan dengan laptop, gue beralih ke iPad. Karena emang berencana mencari koneksi wi-fi, gue pindah ke lt. 1 dan duduk di tangga untuk mendapatkan sinyal. Entah karena udah mau liburan atau emang koneksinya bapuk, gue nggak berhasil mendapatkan sinyal di sana. Di tengah kesendirian gue dan mengutuki koneksi wi-fi, gue menerima e-mail perpisahan dari Peow. Sudah bisa diduga, gue menangis lagi membaca imel tersebut. Peow juga menyebutkan nama kami semua sebagai ‘my second family’. Entah apa arti tangisan-tangisan gue sedari kemarin, tapi yang jelas gue sangat kehilangan. Melelahkan memanggul emosi seberat ini tapi gue terus menguatkan diri bahwa ini bukanlah perpisahan. Ya, akan ada yang berubah, namun ini bukan perpisahan. Bukan.
3:30 p.m.
Setelah teman-teman gue kembali dari kelilingan, kami pun bersiap-siap untuk memulai keseruan yang dimulai dari Nanny’s Pavillon Bathroom Pasific Place. Kenapa di PP? Karena si Jeung ketiban rejeki dapet iPod Nano setelah nge-klik ‘like’ di FB dan harus ngambil hadiahnya di La Senza PP. Di sanalah ternyata terjadi percapakan seru yang – sayangnya – tidak gue saksikan sendiri. Adalah Agus Leo yang akan menikah di awal September dan mengingat ‘keortodokan’ kelakuan dan sifatnya, kami sebagai teman penting mengingatkan beberapa hal menjelang pernikahan. Karena percakapan terjadi di depan toko lingerie, maka percakapan pun berkisar malam pertama. Ketika kami menawarkan beberapa lingerie ke Agus Leo, “Ah, ngapain pake lingerie yang bagus-bagus? Ntar juga dilepas.”
Jeung pun menyaut di sambit kemudian oleh Coi2, “Yah, ibarat nasi kuning, yang satu di bentuk tumpengan, yang satu di dalem nasi kotak. Noh, kalo udah kawin setaun dua taun macem si Arin, baru deh celana dalem melar-melar juga nggak papa dipake hari2. Ya khan, Rin?”
Gue mengiyakan namun tidak mengambil bagian dari percakapan. Sepertinya perjalanan Agus Leo menuju malam pertama perlu pengawalan ketat! :D
5:20 p.m.
Ok. Kita masuk Nanny’s setelah puas muter-muter di La Senza. Seperti biasa kita hahahihi tentang kerjaan kantor dan keonyonan orang-orang di dalamnya. Percakapan masuk ke yang lebih serius dan personal. Harus gue akui bahwa berbagi adalah skill yang harus terus dilatih karena berbagi adalah taruhan. Berbagi bukanlah berbagi sesuatu yang sifatnya ngegosipin orang lain di kantor atau ngoceh ngalor-ngidul nggak jelas. Berbagi sesuatu yan personal bukanlah perkara mudah. Sulit bahkan. Dari semua temen-temen gue, Miss J adalah yang paling gampang berbagi sesuatu yang personal. Mungkin dia terlihat pendiam dengan fluktuasi emosi yang stabil, tapi dia adalah orang yang mau berbagi dan pendengar yang baik. Sisanya? Paling2 si Jeung, tapi itu pun jarang karena doi sering menghilang belakangan. Untunglah dia bertemu pria yang sepertinya baik, jadi kelakuannya bener :p
Yep, berbagi sesuatu yang personal mungkin menyakitkan dan sulit tapi bukankah itu gunanya teman? Cara masing-masing kami berbeda mengatasi masalah dan cara kami memberikan masukan pun beda. Mungkin bikin nggak nyaman tapi temen yang baik selalu mengingatkan yang terbaik. Selalu.
Setelah ngalor-ngidul nggak jelas, gue, Gogo dan Agus Leo akhirnya ngasih kejutan yang udah kita siapin dengan segala keterbatasan waktu dan perintilan. I hope you like it! Setelah puas hahahoho di Nanny’s, kita sempetin jalan-jalan dan foto-foto di sekitar PP.
9:20 p.m.
Setelah capek muter-muter, akhirnya kita capcus ke rumah J! Yep! Kita memutuskan untuk nginep di rumah J. Sayangnya Agus Leo & Gogo nggak ikutan. Sepanjang perjalanan gue berdoa semoga nggak kena macet. Sementara J nganterin Agus Leo balik ke Gandaria, gue langsung ke arah rumah J. Alhamdulillah nggak terlalu macet. Tapi justru J yang kejebak macet di mana sampe akhirnya gue, Peow dan Jeung sempet nongkrong dulu di Mc D Cinere lebih dari setengah jam.
Karena udah malem dan gue ngantuk abis, setelah mandi gue menyerah kalah pada ngantuk dan tidur sebelum jam 12 sementara yang lain..entahlah pada ngomongin apaan. Tapi gue sempet denger si Jeung ngomongin gue soal pilihan sepatu ama baju yang so last year! Biarin. Ngok. Si Peow juga sempet kena gebuk sama gue , kayaknya sih gue ngelindur :p
“Wah, kasian banget laki lo tiap malem lo gebukin,” kata si Jeung. Pret!
11 Juni 2011
Besokannya kita berencana untuk nemenin si Coi2 bikin tato. Dia berencana pasanga tato di deket kuping dengan bentuk kunci G. Semoga si treble clef bikin membantu proses penyampaian wejangan ke kupingnya lebih cepat dan lebih baik. Meresap gitu, nggak cuma numpang lewat. Tadinya si Coi2 berencana ke tukang tato di daerah Senopati atau Benhil. Dia juga dapet rekomendasi dari salah satu kolega di Blok M Square. Sepertinya Coi2 pengen bikin yang di daerah Senopati. Maka perjalanan ke tukang tato dimulai.
2:15 p.m.
Setelah sarapan nasi uduk yang nikmat ituh, disadari bahwa perut sudah mulai keroncongan lagi. Si Jeung menyarankan untuk makan sate domba afrika. Yey! Udah lama banget gue pengen nyobain juga. Katanya ada di daerah deket rumah J. So…mekuncurlah kita ke Goyang Domba. Lucu banget poster-poster di warung Goyang Domba (pelesetan Goyang Dombret kayaknya). Ada poster End of Day (??) lengkap dengan domba terbangnya. Juga ada wall of fame dan teryata Alec Baldwin pernah makan di sana! Nyam! Nyam si domba itu. Nggak terlalu mahal, enak walaupun sedikit bau domba. Hehehehe.
3:30 p.m.
Nggak terasa tau-tau dah sore dan kita masih musti nyari-nyari si tukang tato. Setelah muter-muter lewat jalan tikus ngindarin macet, akhirnya ketemulah si tukang tato. Pas kita dateng, ada pelanggan yang lagi di tato di seluruh tangan dan belon beres. Ini pertama kali gue ke tukang tato. Serem? Iyah. Tempatnya remang-remang ber-AC dengan bau rokok. Perpaduan mematikan! Berhubungan perjalanan jauh, taka da salahnya gue numpang buang air kecil alias pipis di sana. Ternyata setelah ditanya, wek! 800rb/ jam! Nego sana sini ternyata nggak dapet juga, akhirnya Coi2 memutuskan untuk ke Blok M Square seperti rekomendasi sebelumnya. Menurut J sayang harus keluar segitu karena tato yang diminta itu nggak rumit dan kecil. Sebelum ke Blok M, kita mampir dulu di toko kue Tivi. Entah kenapa saya cukup terkesan dengan kleponnya. Lho?
5:50 p.m.
J harus balik ke rumah karena ternyata Luna, kucingnya, harus diopname karena nggak mau makan dan minum selama 4 hari. Si Gogo yang nyusul ke rumah J pagi-pagi juga berpisah di toko Tivi karena musti nyambung ke Gading (btw jas gue jangan ampe ilang yee…buat graduation taun depan tuu, eike bakal mejeng di panggung soalnya :D)
Perjalanan diteruskan dengan menyisakan gue, Coi2, Peow dan Jeung. Berbeda dengan tukang tato di Senopati, tukang tato di Blok M ini cuman berupa kios kecil 2x3 m dengan luas yang minimalis. Entahlah apa yang membuat Coi2 akhinya yakin dengan si abang, akhirnya dia memutuskna untuk ditato di sana. Awalnya si Coi2 melebai seperti biasa, bawel ke si abang sampe tangan si Jeung dipegang macam pengen beranak aja. Nggak sampe setengah jam, si kunci G bertengger manis di bawah kuping Coi2. Selamat!
It’s not a goodbye
Setelah semua beres, Jeung dijemput pacar untuk pulang. Gue, Coi2 dan Peow pulang juga balik pulang. Seperti bias ague mengantar si Coi2 ke kosannya. Saat itu gue sadari, itulah terakhir kalinya gue mengantarkannya pulang ke kosan. Gue pun masuk ke kosannya karena Peow berencana pindah ke sana. Gue lihat kamarnya sudah kosong dan barang-barangnya sudah terpak rapi. Itulah juga pertama kalinya gue masuk ke kamar kosannya. Gue masih inget waktu musti jemput dia ke Obonk. Kata ibu kos si Coi2 udah nggak ngekos lagi di situ. Heh? Padahal baru kemarennya gue nganterin dia pulang ke sana. Ibu kos bilang kalo Coi2 dah lama pindah kerja ke Grand Indonesia. Heh?! Nii anak punya kehidupan ganda apa gimana sii?
Pas mo pulang karena nggak berhasil menemui si Coi2, si Ibu nanya lagi, “Ini Patricia yang mana ya?”
Peow jawab, “Itu, Bu, yang tinggal di kamar depan situ.”
“Ooww!! Yenny? Kalo Yenny ada.”
Gubrak!
Sampai di rumah gue pun tidur dalam gelap menunggu laki gue pulang. Ini bukan perpisahan, tapi kenapa gue sedih sekali? Setelah nganter Peow ke kosannya, gue tau kalo gue akan ketemu dia lagi setelah ini, tapi kenapa gue sedih? Entahlah, apa karena setelah gue masuk sekolah lagi gue akan sendirian? Atau karena Peow nggak akan nemenin gue lagi pagi-pagi berangkat sekolah? Atau karena gue akan sendirian pulang ke rumah setelah hamper tiap hari gue mengacau bersama Peow dan Coi2? Atau karena temen-temen gue nggak ada buat ngabur-ngaburan abis jam sekolah? Atau apa?
Pada akhirnya gue bangga dengan temen-temen gue yang pergi dan mengejar mimpi mereka. Bangga karena nggak semua seberani mereka mengambil keputusan besar meninggalkan tempat yang sedikit banyak sudah memberikan kenyamanan pada kami. Nekat tepatnya. Hahahaha.
Thank you for a wonderful friendship for the past 3 years. It is something that I never expected. Before I wonder why this is happen but maybe it is a simple sign that I’m strong enough to face it by myself. All of you truly give me inspirations to spread my wings wider and fly higher because when you can, I also can. Good luck for all of us! Cheers!
19 June 2011
8:50 p.m.
My bedroom
Kamis, 10 Februari 2011
What A Teacher Make
Rabu, 30 Juni 2010
"I Want to Grow Old with You..."
Gogo’s FB status on June 22, 2010
Bangun pagi hari ini agak beda dengan hari-hari libur biasanya, padahal hari ini Sabtu pula. Hari ini berbeda karena gue dibangunkan oleh alarm yang biasanya menemani pagi gue selama bekerja. Lalu mengapa gue dengan rela saja dibangunkan oleh alarm yang super mengganggu ini di pagi Sabtu yang merupakan hari libur juga? Hal ini dikarena saya sudah berjanji dengan si Peow untuk datang ke pemberkatan nikah salah satu Gerombolan Siberat; Gogo dan tentu saja dengan suaminya (masa’ sama suaminya Peow. Hek?!)
Okah. Begini. Saia ini pemalas sekali, selain apa yang sudah saia jelaskan di posting saia terdahulu, ‘Carol’s Wedding’, hari ini lebih pemalasan karena harus bangun pagi-pagi sekali. Gue nggak pernah dateng sekalipun ke acara pemberkatan nikah di gereja, jadi gue nggak tau prosesinya seperti apa. Nggak hanya itu, karena tetep pengen dateng ke acara pemberkatan dikarenakan Gogo meminta J untuk datang di pemberkatan dan J meneruskan kepada Peow dan akirnya si Peow meneruskan kepada gue – napas dulu – jadi gue percaya saja kalau kami diundang ke pemberkatan nikahnya Gogo. Padahal gue nggak pernah dateng ke acara akad nikah atau pemberkatan nikah seorang teman. Tidak satu pun. Gogo, ini adalah sebuah kehormatan besar bagimu, karena baru sekali ini si Onta ini dateng ke pemberkatan nikah seorang teman. Kalo akad nikah sodara mah sering, tapi teman, tidak pernah.
Dengan segala daya upaya, gue bangkit dari kasur dan bersiap. Yang tadinya mo jalan jam 9 karena gue pengen liat seluruh prosesi, malah molor jam setengah 10 (gue banget nii emang, Coy2 dan Peow sudah menjadi korban gue untuk yang kesekian kalinya). Si Peow memang menyarankan untuk dateng jam setengah 10 awalnya. Dengan sisa waktu yang ada (sisa dari mana, orang telat kok), gue makan sereal sebelum berangkat. Di tengah ketergesaan gue makan sereal, si Peow bertanya,
Peow (P): emang orang batak juga dikasih angpaw ya?
Ontacerdas (OC): ya iya lah. Mo lo kasi apaan? Bebong?
Rupanya si Peow ‘terinspirasi’ dari tumpukan amplop yang ditaro si Bay2 di atas meja tamu.
Jam setengah 10 kami berangkat dengan kecemasan karena....ga satu pun dari gue, Peow atau Bay2 yang tau di mana lokasi persis gerejanya! Well, gue sii pede jaya aja ya secara gue pikir emang seberapa gede sih Halim? Paling juga deket bandaranya khan? (sok tau abis, secara gue juga nggak pernah ke bandaranya). Sepanjang jalan, dengan segala upaya, Peow memanfaatkan fasilitas foursquare dan google map untuk yang kesekian kalinya. Yang ini lebih parah, nggak satu pun situs yang berhasil ngebuka peta. Horrrr!!! Okahlah, dengan sedikit keberanian dan pengalaman mencari-cari gedung kawinan, gue yakin kita pasti bisa nemunin gerejanya, masalah kapan itu urusan nanti. Mo sampe sana acaranya udah bubar, itu juga urusan nanti. Yang gue cemaskan justru kalau gerejanya ketemu, acara belon beres, boleh masuk gak ya?
Akirnya setelah memasuki daerah Halim, gue terus lurus dengan harapan kedua navigator gue bisa memberikan masukan, nggak mungkin dong gue stand by kanan-kiri selagi nyetir. Sapa satu salah satu dari mereka berhasil menemukan Jl. Angkasa. Wew, gue akirnya sampe ke Pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma, buset, ini sih udah jauh banget, bentar lagi bandara. Tapi gue tetep yakinkan hati bahwa gereja itu belon kelewat. Daaaannn.....jreng! kok tau2 di depan gue udah gerbang bertuliskan ‘Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma’ dan nggak ada puteran balik! Mosoolooohhh!
OC: (panik campur kaget tapi memelankan laju mobil) woi! Ini kok masuk bandara nih! Kemana dong?! Masa’ terus?!
Namun sepertinya niat baik selalu dilindungi Allah.
P: eh, itu, itu ada gereja di kanan. Itu pasti gerejanya.
OC: elo yakin?! Lu jangan asal gereja aja lo tunjuk.
P: iya, itu gereja Oikumene. Itu gerejanya. Bener.
OC: emang gereja kayak gitu cuman satu di sini?!
P: udah, bener itu.
Dengan setengah nggak percaya, toh gue nggak punya pilihan laen, gue ikutin aja apa kata cangkem si Peow. Tapi ini gimanah?!! Gue udah terlanjur ada di jalur searah menuju gerbang bandara! Akirnya dengan pengalaman ngangkot 5 tahun dengan modal sertifikat menyetir lewat Jl. U – Syahdan yang maha sempit, gue hajar aja tuh jalan 1 arah – alhamdulillah, jalanan lagi sepi – dan langsung ngambil jalan menuju gereja yang diyakini adalah gereja pemberkatan si Gogo.
Setelah dapet parkir dan mengganti sendal teplek dengan high heels 7 cm (entah apa yang gue pikirkan saat itu), kami pun masuk dengan ketidakpastian. Nggak ada papan apapun untuk mengetahui pemberkatan siapa di dalam gereja itu. Satu-satunya cara adalah masuk ke dalam dan melihat dengan mata kepada sendiri siapa pengantinnya. Entah keyakinan dari mana yang merasuki kami karena siapa yang tau juga di dalem sedang ada pemberkatan nikah atau misa biasa.
Masuk dengan mengendap-endap karena tidak mau mengganggu dan karena gue bukan Kristiani, jadi gue berusaha sesopan mungkin demi menghormati gereja dan kultur-kulturnya. Si Peow memimpin kami masuk karena dia satu-satunya Khatolik (kejawen tapi), dan duduk di barisan belakang. Great! Mo paling depan juga kita nggak bakal tau siapa yang nikah – oke, ini pemberkatan nikah karena ceramahnya seputar pernikahan lah, itulah kesimpulan gue sesaat setelah naro pantat di bangku gereja – karena senderan kursi pengantennya tinggi banget! Cuma ubun-ubun kepala doang yang disisain keliatan dari bangku penonton. Okeh, satu-satunya cara untuk tau siapa pengantennya adalah....nanya penonton laennya. Salah. Mo tanya sapa? Nggak ada satu pun yang kami kenal di sana, lagian kalo salah gimana? Yep, akirnya kami menunggu pendeta menyebutkan nama salah satu penganten.
Pendeta (Pn): jadi, Frans...
Gue dan Peow liat-liatan sambil sedikit lega.
OC: nama lakinya Frans khan? Eh, Franky apa Frans
P: (dengan semangat tersenyum sampe matanya ilang) Iyah, iyah, Frans, Franky itu panggilannya ya.
Gue juga inget di undangan kalo nama depannya emang Frans. Tapi....lah Frans khan banyak! Kita harus tunggu pendeta untuk nyebut nama penganten ceweknya kalo gitu. Lah, kalo penganten cowoknya Frans tapi nama penganten ceweknya Wati, salah dong!
Akirnya saat yang dinanti tiba, tak perlu waktu lama,
Pn: Jadi ya, Frans dan Virgonia...
OC & P: (cengar-cengir lega sekaligus kesenengan karena berada di pemberkatan nikah dan gereja yang tepat)
Oke, okeh!
Setelah tenang karena berada di pemberkatan yang tepat, kami mengikuti prosesi dengan tenang namun sesekali gue bertanya ke si Peow beberapa ritual gereja. Jangan salah, sekali pun si Peow cuman 2x setaun gereja pas Natal ama Paskah (sama kayak gue, shalat cuman 2x setaun, Idul Fitri ama Idul Adha doang), tapi banyak pengetahuan yang bisa gue dapet dari dia. Nggak cuman itu, gue juga menceritakan beberapa ritual di Islam.
Ternyata gue beruntung, prosesi pembacaan janji nikah belum terlewat, padahal kami sudah terlambat 1 jam. Saat penganten cowok membacakan janjinya, gue terfokus kepada kedua penganten. Bergantian melihat Franky dan Gogo seakan ga mau melewatkan satu pun ekspresi dari keduanya. Franky membacakan janjinya dengan tenang dan lancar. Ketika giliran Gogo, pada awalnya ia dengan tenang dan lancar – setenang penganten cowok – membaca janji pernikahannya. Namun menjelang akhir, suara Gogo bergetar dan akhirnya air mata pun mengalir di pipinya. Kendati demikian, Gogo bisa menyelesaikan kalimat janji pernikahannya. Di titik itulah air mata gue menggenang. Terharu. Pasti terharu. Sudah tabiat saia.
P: dulu elo nangis juga nggak?
OC: (masih setengah haru dan mata tergenang) iya lah.
Akirnya gue terlempar ke masa 2 tahun yang lalu ketika gue meminta izin kepada bokap gue untuk menikahkan gue dengan pria pilihan gue. Saat itu gue tidak merasa akan menangis atau terharu karena gue santai menjalani semua prosesi. Bangun pagi2 subuh dalam keadaan santai, nggak berasa kalo gue didandanin untuk akad nikah gue sendiri. Seperti biasa, ketika gue sangat begah didandanin, apalagi dandan berat, gue ngacak-ngacak alat rias perias penganten di depan gue, sambil terus ngingetin untuk nggak menor-menor.
Perias (Ps): yah, khan mau jadi penganten, emang harus medok make-up nya.
OC: (dalam hati) mosoolooohhh
Nggak lupa, gue duduk dengan ngangkat 1 kaki dengan cueknya sambil disuapin makan pagi. Lengkap dengan nguap-nguapnya karena masih pagi banget. Ditambah bawel karena tarikan sasakan dan tusukan jepit rambut untuk masang konde di kepala gue. Holoh! Belon lagi kerempongan pake kaen yang super ketat, saking susahnya jalan, akirnya gue bukannya melangkahkan kaki kiri-kanan, tapi malah ngesret dengan posisi kaki kiri di depan dan kanan di belakang. Nyokap gue ngamuk,
Mam (M): (sambil sibuk dengan dandanannya sendiri) eh! jalan jangan begitu, dibiasain dong jalan yang bener!
OC: (tetap berjalan – atau tepatnya loncat-loncat – ngesret)
Setelah siap, gue dibawa ke kamar penganten, berasa kayak monyet di Ragunan, orang-orang ngeliatin gue kayak liat bekantan koleksi terbaru dari Ostrali. Gue? sibuk megangin untaian melati yang menjuntai panjang dari kepala sampe pinggang karena kalo nggak dipegangin, berat banget. Bisa-bisa pas akad kepala gue mencong ke kanan kayak orang sakit leher karena salah tidur.
Begitu keluarga penganten cowok dateng, jendela di kamar gue ditutup – bener-bener berasa monyet di Ragunan, pertunjukkan telah usai, tirai ditutup. Pas gue duduk di sebelah Bay2, kalimat pertama yang muncul dari mulutnya adalah,
Bay2 (B): (berbisik) kayak nyi blorong lo
OC: (santai ajah, dah biasa)
Prosesi akad dimulai dan pas giliran gue minta izin sama bokap, gue berusaha untuk membaca janji yang gue buat sendiri. Intinya gue berterima kasih karena kedua orang tua gue sudah membesarkan gue, meminta maaf atas segala kesalah gue dan meminta izin untuk dinikahkan oleh laki-laki yang gue pilih.
Hai, kalian yang belum menikah maupun yang mau menikah lagi, percayalah, sesantai apapun gue menjalani prosesi ini – gue yakin Gogo juga santai, keliatannya santai – pada akhirnya haru-biru itu muncul juga. Entah dari mana energi dan sensasi itu, setelah beberapa baris awal, haru dan tangis gue pecah juga. Saat gue menulis ini dan membacanya – berapa kali pun membacanya – masih gue ingat bagaimana air mata gue menghalangi seluruh pandangan mata gue, ditambah bulu mata atas bawah super panjang yang membuat jarak pandang gue nyaris nol. Gue nggak bisa baca! Gue nggak bisa meneruskan izin gue! Nggak ada tisu di sekitar gue, mata terus gue kedip-kedipkan, setengah mati gue tahan rasa haru itu, akhirnya gue bisa meneruskan kalimat gue dilatarbelakangi oleh tangisan yang lebih kencang – jauh lebih kencang – dari tangisan gue. Karena nggak bisa dangak untuk ngeliat siapa pemilik tangisan – yang sebenernya membuat keharuan gue berkurang, berganti rasa penasaran – maka gue simpulkan kalo yang nangis adalah adek gue! Belakangan gue tau dia nangis terharu karena selama 6 bulan terakhir dia tidur sekamar ama gue & dia menyadari kalau di malam itu dan seterusnya, dia nggak bisa sekamar lagi sama gue. Prosesi berjalan lancar. Tepat pukul 10 pagi, pernikahan kami sah. Alhamdulillah...
Kembali ke gereja dan pemberkatan Gogo, prosesi berakhir pada pukul setengah 12. Di sana gue bertemu beberapa teman kerja. Sayangnya, kami nggak berkesempatan berfoto bersama penganten. Tapi gue dan Peow berhasil memberikan selamat. Si Gogo sempet2nya komen baju gue yang warna ungu. Hohoho...
Petualangan kami belum selesai. Kami memutuskan untuk ke resepsi yang entah di mana itu. Sempat dijelaskan arah menuju tempat resepsi tapi gue nggak merhatiin. Untunglah 2 navigator gue memperhatikan namun kayaknya mereka juga bingung. Alhasil, kami berangkat menuju tempat resepsi. Alhamdulillah, dengan modal peta dari undangan, kami sampai ke tempat tujuan. Sebelum sampai, kami sempet bingung dengan petunjuk yang ada di peta. Di peta ada perempatan, tapi yang ketemu cuman pertigaan. Trus ada RSIA Yadika, tapi cuman ada RS Yadika (sempet girang karena yakin nggak nyasar). Maju ke depan dikit, ada RSIA – entah apa namanya – jadi ini mana yang bener? Tapi selama berada di Jl. Pahlawan Revolusi, kami yakin kami nggak nyasar. Dengan patokan Giant, kami begitu bahagia ketika melihat logo Giant yang besar diikuti dengan jalan kecil dengan janur kuning melengkung diikat di tiang listrik. Okah! Ini dia gang yang dicari-cari.
Sampai di sana, parkir sudah penuh, orang-orang sudah berkumpul. Tapi kami tau nggak bakalan telat karena kami berangkat lebih dulu dari penganten. Untungnya kami nggak sok tau menerobos orang-orang yang berkumpul di depan pintu masuk lantai bawah karena itu khusus untuk keluarga. Yep! 1 lantai untuk keluarga. Untuk tamu nasional, gue, Peow dan Bay2, disediakan lantai 2. Berhasil naik ke atas dengan sepatu hak 7 cm, gue langsung terpukau melihat tatanan meja dan kursi beserta lauk-pauk yang terhampar menutupi seluruh lantai 1. Baru kali ini gue dateng ke resepsi orang Batak dan melihat prosesi adat mereka yang kaya kultur. Di pelaminan disediakan makanan, jadi penganten akan makan bersama dengan tamu. Jika di pelaminan biasanya hanya ada 5 kursi; 1 untuk penganten, 4 untuk ayah dan ibu penganten, maka ada 20 kursi lebih untuk – entahlah apa itu, Gogo tolong jelaskan – seluruh keluarga. Pertayaan awal gue setelah sadar dari kekaguman,
OC: ini nanti kita musti salaman sama semuanya
Sebenernya sii gue cukup ragu apakah gue bisa salaman dengan pengantennya secara lantai kepisah begini.
P: Ya iya lah, masa’ mo dilewatin langsung ke Gogo!
OC: tapi kita bakal salaman nggak ya?
B: biasanya sii pengantennya yang bakal nyamperin kita
Kebetulan ibu mertua gue orang Batak, jadi si Bay2 tau sedikit banyak adat Batak.
Di tengah prosesi adat yang cukup lama, 1 jam, dan terus berjalan, si Jeung mengirim BBM ke gue dan melapor bahwa dia nyasar.
Jeung (Jg): gue sekarang ada di pd. Gede, tadi keluar di taman mini
OC: lah, kok bisa ampe sana? Elo harusnya keluar di Jatiwaringin
Dan merepetlah si Jeung karena adek iparnya sok tau jalan, ditambah dengan ‘kecerdasan’ si Jeung yang nggak bawa undangan! Holoooohhh!! Setengah mati gue ngasih petunjuk dan akirnya sampe juga si Jeung (turut prihatin dengan adik ipar Jeung). Sebelumnya, sekeluarnya dari tol, tebak apa yang gue temukan; Bebek Slamet! Sempet mo makan dulu karena udah laper banget. Beruntunglah perut bisa diajak kompromi sehingga ketika diperbolehkan makan, gue belom kolaps (mengingat gue cuman makan sereal seuprit)
Ketika gue makan, di sebelah gue ada seorang cewek yang lagi sms-an ama temennya. Mata tak dapat dijaga, gue intiplah isi sms itu. Isinya: gue sekarang lagi ada di kawinan orang Batak, kesan pertama gue ribet banget! Gue nggak mau kawin sama orang Batak deh.
Dalam hati gue, deee....sapa juga yang mo ngawinin situh!
Anyway, gue sebagai temen sangat salut kepada cewek satu ini. Gue emang nggak ngikutin seluruh prosesinya dia menjadi orang Batak, sampe akirnya dia punya marga dan menikah dengan orang Batak, tapi kalo gue punya 10 jempol (ngeri nggak sih?!), sepuluh-sepuluhnya buat si Gogo deh! Finally, you’re Mrs. Sirait! Congrats, Darling!
Sangat tidak menyesal gue dateng ke pemberkatan dan resepsi Gogo karena melihat seorang teman memasuki kehidupannya yang baru adalah pengalaman yang luar biasa. Seluruh doa dan harapan gue panjatkan untuk salah satu teman terbaikku, Gogo. Selamat menempuh hidup baru. Let the journey begins....
Pesan moral: buat orang-orang yang menemani gue ke akad atau pemberkatan nikah, jangan lupa membawa gulungan tisu dan tahan malu melihat gue yang sesegukan sampe ingusan kemana-mana.
*btw, si J kemana yah? Belon balikkah dia dari Umroh? Seperti ngilang ditelan bumi...
